Apa Itu Teman?

Well, pada sekitar akhir 2009, saya mengalami sebuah “event penting” dalam hidup. Saat itu saya mengalami krisis eksistensial, dan kesendirian. Namun, setelah berlarut-larut dalam kesedihan akhirnya saya pun mencoba bangkit dengan membuat sebuah survey kecil kepada orang-orang yang saya kenal dan sayangi melalui Yahoo! Messenger (lima tahun yang lalu messaging service ini masih populer tentunya). Hasil survey ini saya publish pertama kali di sini.

Surveynya sederhana, saya hanya menanyakan satu pertanyaan kecil, yaitu “Apa itu teman?

Dan berikut merupakan jawaban-jawaban mereka:

Teman adalah seseorang yang dijadikan tempat sampah, jika sedang marah dengan pacar atau belum punya pacar, teman jadi tempat curhat. Padahal tempat sampah sementara saja.
— Alita Selindra, wiraswasta, Republik Ceko.

Teman adalah seseorang yang rela kita manfaatkan demi kepentingan diri sendiri.
— Pram R. Nagara, saat ini sedang menyusun tugas akhirnya, Bogor.

Teman ……………… tau ah……….. hehehehe.
— Darma Suyoga, pengrajin perhiasan, ayah dari dua anak, Bali.

Teman adalah tempat penampungan akhir saat dicampakan [censored], [censored], [censored], [censored] dan biatch biatch lainnya.
— Yang Aryani Arvin, mahasiswa, Jatinangor.

Teman adalah seseorang yang mau mengakui kalau kita memang ganteng, bagaimana pun bentuk mukanya.
— Rizal Risalam, mahasiswa, no comment dah. Bekasi.

Teman adalah seseorang yang akan menjadi perisai demi orang lain walau tanpa diminta.
— Dian Indraswari Wiryadisastra, karyawan bank swasta, Bandung.

Teman adalah seseorang yang bersedia menjenguk saya ketika saya sakit, dan sebaliknya.
— Antonius Tandera, pelajar SMA swasta, Jakarta Barat.

Teman adalah orang yang rela nemenin gw berburu barang-barang murah tanpa gengsi.
— Amanda Rahma Putri Kardana, mahasiswa, fanatik kucing, Bandung.

Teman adalah seseorang yang sadar mau keluarin duit untuk patungan bensin ketika dia nebeng kendaraan gw baik jauh maupun dekat.
— Shandy Ardiansyah, mahasiswa, Bandung.

Teman adalah orang yang bales sms gw ketika ga seorang pun bales. Dia jawab pertanyaan gw di sms itu.
— Mol Mulyono, graphic designer merangkap PNS, Serpong.

Teman adalah seseorang yang bisa menemani aku saat ngopi.
— Jack Sirait, wiraswasta, coffee addict, Jogjakarta.

Teman adalah seseorang yang membuat kita senang disaat kita sedang menghadapi masalah, walau kita tidak harus menceritakan kesulitan yang kita hadapi.
— Jawari Mafnun, guru SMP swasta, seorang pendengar yang baik. Solo.

Teman adalah seseorang yang peduli dengan kita dikala orang2 sibuk dengan urusannya masing-masing.
— Dinne Medina Wahyuni, kakak, serta ibu dari dua anak. Bandung.

Teman adalah seseorang yang bisa nemenin gw melek nyupir semaleman sampe gw gak merasa ngantuk, sambil assist gw di jalanan.
— Niko Satrio, fanatik bus merangkap supirnya, Semarang.

Teman adalah orang yang mau nemenin jalan bareng di saat dandanan gw lagi norak.
— Dwi Prathiwi, mahasiswa, Bandung.

Teman adalah seseorang yang selalu ada bagaimanapun keadaannya, that’s it.
— Tika Roswina Pertiwi, mahasiswa, Jatinangor.


Setelah kilas balik dengan membaca jawaban-jawaban di atas. Saya sedikit tertegun dengan bagaimana dalam rentang lima tahun tersebut kehidupan telah berubah dengan drastis.

Misalnya nih: semua teman-teman saya yang berstatus kuliah saat itu; Pram, Rizal, Yang, Amanda, Dwi, Tika dan saya sendiri;  sekarang telah lulus kuliah dan bekerja di berbagai tempat yang berbeda. Bahkan Antonio pun yang saat itu masih berstatus siswa SMA, awal bulan Mei ini telah selesai sidang.

Kemudian tante Alita yang berdomisili di Czech, kabarnya sekarang telah pindah tempat tinggal di London, Inggris.

Mungkin yang sedikit menyedihkan, ketika menyadari saya sudah tidak berkomunikasi lagi dengan beberapa dari mereka seperti Niko, Jack, Darma, dan Alita. Mereka adalah teman-teman yang saya kenal dari situs ForumPonsel.com. Forumnya sudah mati, sayangnya, dan seiring ditinggalkannya Yahoo! Messenger, jarak di antara kami pun semakin jauh.

Well, walaupun begitu, dari jarak-jarak tersebut, teman-teman yang baru pun tumbuh mengisi ruang-ruang kosong tersebut seperti jamur di musim hujan. That’s the circle of life, I guess. 🙂